Lebih Memilih Ilmu Kelapa, Ketimbang Ilmu Padi

Syaiful Said saat memberikan materi pada kegiatan Bawaslu Kabupaten Banggai, beberapa waktu lalu. (FOTO: Istimewa)

____

NAMANYA Syaiful Said. Di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Banggai, dia menjabat sebagai Koordinator divisi (Kordiv) Hukum, Humas, Hubungan Antar Lembaga Data dan Informasi (H3DI).

Ipul begitu pria kelahiran 30 Juli 1985 ini akrab disapa adalah pengganti antara waktu (PAW) Bawaslu Kabupaten Banggai. Bersama Marwan Muid, Ipul dilantik di bulan Oktober 2019 untuk menggantikan dua komisioner Bawaslu Banggai yang sebelumnya dinonaktifkan Bawaslu RI.

Meski berusia muda, tapi memiliki seabrek pengalaman. Sudah tiga kali pemilu dilaluinya

“Sudah tiga kali pilkada. Mulai dari 2006, 2011 dan pilkada 2015,” kata Ipul kepada wartawan media ini, Senin (06/04/2020).

Sebelum menjadi komisioner Bawaslu Banggai yang masa bakti akan berakhir di tahun 2023 mendatang, Ipul meniti karirnya dari bawah.

Dia pernah menjadi anggota kelompok panitia pemungutan suara (KPPS) di Kecamatan Batui Selatan tahun 2009.

“Tapi sebelumnya saya pernah aktif di lembaga survei Indonesia (LSI) 2004-2006,” kata pria 35 tahun ini.

Di pemilu 2011, Ipul naik level. Dia menjadi anggota panitia pemungutan suara (PPS) di Kecamatan Batui Selatan.

Mulai berkiprah di lembaga pengawasan terhitung sejak 2013. Ipul menjabat sebagai anggota Panwascam di kecamatan yang sama.

Kesuksesan Ipul dalam meniti karir, tidak lepas dari tangan dingin para seniornya. Dia pun tidak mudah lupa tarhadap motivasi yang diberikan tersebut.

“Sampai saat ini, saya aktif berkomunikasi dengan Suhartono Sahido, Amir Buhang dan Bobby Pondaag. Merekalah yang selama ini memberi spirit pada saya,” kata Ipul.

Kaderisasi bagi Ipul sangat penting. Selain dapat berbagi pengetahuan juga hubungan silahturahim tidak putus. Dan konsep itu tertanam kuat di dalam jiwanya.

“Karena saya awalnya dikader, kini giliran saya mengakader. Alhamdulillah setelah saya di Bawaslu, ada regenerasi di Panwascam dan di PPK Batui Selatan,” kata dia.

Hal ini yang kemudian menjadi alasan dia, sehingga lebih memilih ilmu kelapa, ketimbang ilmu padi.

Ipul memiliki jawaban sendiri. “Benar, filosofi padi itu, semakin berisi maka semakin menunduk. Tapi tidak berbagi. Berbeda dengan ilmu kelapa. Mulai dari akar sampai daunnya berguna bagi orang banyak. (im)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: