Pilkada Banggai 2020, Pertarungan Hidup-Mati Antara Golkar Versus PDIP

Ilustrasi logo Partai Golkar dan PDI Perjuangan.

Luwuk, LUWUK TIMES— Melihat judul sekilas terbaca ‘sangar’. Tapi sudah seperti itu dinamikanya bahwa pilkada Banggai 9 Desember 2020 akan menjadi momentum kompetisi yang sangat berarti buat Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Sehingga pantas disebut sebuah pertarungan hidup-mati oleh kedua partai besar tersebut.

Dalam sejarah perhelatan pemilihan kepala daerah secara langsung di daerah ini, Golkar dan PDIP memiliki jumlah kemenangan yang sama, yakni mengoleksi dua kali kemenangan.

Tanpa koalisi, partai Golkar memenangkan pilkada Banggai di tahun 2006 dengan mengantarkan Ma’mun Amir-Musdar M. Amin sebagai bupati dan wakil bupati. Sedang kemenangan kedua dipetiknya bersama PDIP di pilkada 2011 dengan mengusung pasangan calon Sofhian Mile-Herwin Yatim.

PDIP menggenapkan kemenangan keduanya di Pilkada Banggai di tahun 2015. Koalisi dengan Partai Demokrat, PDIP sukses menjadikan Herwin Yatim dan Mustar Labolo sebagai bupati dan wakil bupati Banggai.

Pilkada Banggai 2020 tentu akan menentukan angka imbang tadi. Apakah PDIP yang lebih dulu mencapai angka 3 kemenangan, atau sebaliknya Partai Golkar yang lebih awal unggul.

Tak hanya di pilkada. Di panggung pemilihan legislatif (pileg), beringin rindang dan banteng moncong putih bukan saingan partai politik lainnya. Keduanya memiliki prestasi pendulangan jumlah kursi di DPRD Banggai yang sangat signifikan.

Dari catatan Luwuk Times, Partai Golkar di pileg 1999 pernah mengoleksi 18 kursi. Lima tahun berikutnya atau di pileg 2004, Golkar meraup 13 kursi. Di pileg 2009 perbendaharaan kursi Golkar turun menjadi 6 kursi. Namun di tahun 2014 naik menjadi 9 kursi. Tapi di pileg 2019 terpuruk menjadi 5 kursi, sekaligus melepaskan palu sidang yang sudah lama berada di genggaman kadernya.

Sementara itu, PDIP di pileg 1999 mengantongi 6 kursi, pileg 2004 4 kursi, pileg 2009 5 kursi dan pileg 2014 bertambah menjadi 6 kursi. Kursi PDIP meroket di pileg 2019. Partai identik dengan warna merah ini meraup 10 kursi. Unggul kuantitas kursi ini, sekaligus mengambil pucuk pimpinan di parlemen lalong.

Kembali pada topik awal, yakni pilkada. Terlepas siapa yang nantinya sebagai pemenang sejati di Pilkada Banggai, tapi ada yang menarik untuk dicermati dari kedua partai tersebut.

 

Baca juga: Lima Catatan FPG pada LKPD 2019, Yolanda: Koreksitas ini Perlu untuk Perbaikan

 

Di internal Golkar, Samsulbahri Mang tidak ada pesaing untuk didorong sebagai calon bupati. Mantan Ketua DPRD Banggai dua periode berturut-turut ini calon tunggal dari partai bentukan orde baru (orba) tersebut.

Bukan berarti jalan Bali Mang serta merta mulus. Dia diperhadapkan kepada koalisi partai. Pasca PAN diklaim ke kandidat lain, Partai Hanura menjadi bimbang. Golkar terancam sabatang kara. Dan ketika itu terjadi, maka Golkar tidak bersyarat mengusung pasangan calon, karena hanya punya 5 kursi.

Wacana diskualifikasi sangat mengganggu buat para kader PDIP. Gegara melantik pejabat dilingkup Pemda Banggai di zona terlarang 6 bulan sebelum penetapan pasangan calon, calon petahana disebut-sebut akan di TMS kan atau tidak memenuhi syarat sebagai kontestan di pilkada oleh lembaga penyelenggara pemilu.

Tapi persepsi itu buru buru ditangkis kedua kader partai. Fungsionaris Partai Golkar Kabupaten Banggai, Muh. Ladewan mengaku optimis Samsulbahri Mang tetap akan maju sebagai calon bupati yang diusung partainya.

“Sebagai kader saya yakin pak ketua (Samsulbahri Mang) akan maju sebagai calon Banggai I di pilkada,” kata Ladewan.

Ditanya soal koalisi partai, Tenaga Ahli Fraksi Partai Golkar DPRD Banggai ini juga tak kalah optimisnya. “Terlepas pilkada Banggai sangat berdinamika, saya yakin Golkar mampu menarik sejumlah parpol untuk membangun koalisi,” kata politisi yang akrab disapa Neneng ini.

Menyangkut wacana diskualifikasi, Wakil Ketua Bidang Infokom DPC PDIP Kabupaten Banggai, Ismail Indek punya jawaban normatif. “Saya yakin calon petahana akan maju di pilkada,” kata Ismail yang juga Tenaga Ahli Fraksi PDIP DPRD Banggai ini.

Apapun sambung dia, dinamika atau perkembangan politik yang terjadi di DPC, tetap dilaporkan ke DPD dan DPP. Dan sebagai kader, tentu konsisten dengan apa yang menjadi keputusan partai kedepan. *

 

(yan)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: