Mengapa Memilih Politik Praktis? Begini Jawaban Ustad Zainal Alihamu

Zainal Abidin Alihamu saat masih menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banggai. (Foto: Sofyan Labolo)

Luwuk, LUWUK TIMES— Ulama itu identik dengan dunia dakwah dan tarbiyah. Memberikan mauidhah kepada umat dan mengawal moral masyarakat. Sehingga, sebagian orang menilai ulama tak sepatutnya terjun ke dunia politik praktis. Lagi pula tidak sedikit orang awam mengatakan bahwa politik itu buruk. Bahkan tak jarang masyarakat alergi dengan berbagai persoalan politik, karena dalam benak mereka bahwa politik selalu identik dengan korupsi serta ketidaksucian lainnya.

Tentu saja tidak semua kalangan berpersepsi miring tentang politik seperti itu. Salah satunya Ustad Zainal Abidin Alhamu.

“Mindset orang berpikir berbeda dengan saya. Ketika jabatan itu saya emban atas takdir Tuhan, maka insyallah saya akan jadikan ini sebagai sarana dakwah,” kata Ustad Zainal yang ditemui Luwuk Times, Jumat (26/06/2020).

Menurutnya, segudang kepintaran yang kita miliki, tidak akan ada artinya, tanpa segenggam kekuasaan. Dan kekuasaan yang terpenting dalam hidup ini adalah ketika kita mampu menguasai hati kita.

 

Baca juga: Tidak ada Fatwa MUI Mengharamkan Perempuan jadi Pemimpin

 

“Saya teringat dengan pernyataan pak Gus Dur. Beliau katakan jadilah ulama yang intelektual. Jangan jadi ulama yang cuma tahu agama. Artinya, kita juga bisa bicara masalah politik,” kata Ustad Zainal.

Silahkan sambung kandidat Wakil Bupati Banggai pendamping Sulianti Murad ini, orang menyebut politik itu kotor, identik dengan kebohongan dan keburukkan lainnya. Tapi baginya, politik itu dalam Islam adalah siyasah yakni mengatur umat.

“Nah, kalau politik disebut identik dengan kekuasaan, maka saya tegaskan kembali, saya akan jadikan kekuasaan itu sebagai sarana dakwah,” kata Ustad Zainal.

Satu pesan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banggai pada closing statemennya. “Jangan kita bersifat seperti gunting. Lurus tapi memisahkan. Tapi jadilah kita seperti jarum. Meski sakit, tapi menyatukan dua hati yang berbeda”. *

 

Penulis: Sofyan Labolo

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: