Menakar Kekuatan Anti Murad dan Ustad Zainal di Pilkada Banggai 2020

Bakal pasangan calon bupati/wakil bupati Banggai, Hj. Sulianti Murad dan H. Zainal Abidin Alihamu, pada deklarasi paslon HATIMU di Graha Pemda, Minggu (30/08/2020). (Foto: Sofyan Labolo)

“Selain popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas kandidat calon Bupati Banggai harus memiliki kekuatan finansial (modal). Karena persoalan penghasilan masyarakat dan tuntutan isi perut”

Oleh: Muzamil Ngeap

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) Banggai, Desember 2020 mendatang telah memberi ruang dan kesempatan sebesar-besarnya kepada masyarakat Kabupaten Banggai untuk memilih secara langsung pemimpin daerah (Bupati dan Wakil Bupati) Banggai.

Para kandidat calon Bupati dan Wakil Bupati Banggai yang akan bertarung berasal dari berbagai latar belakang profesi, yakni politisi, pengusaha dan birokrat.

Rakyat Banggai mestinya mencermati secara matang rekam jejak dan sepak terjang para kandidat untuk menjadi sorang pemimpin, agar memiliki bekal yang memadai sehingga bisa menentukan pilihan secara rasional.

Kita semua tentunya berharap, pemimpin yang terpilih adalah sosok figur yang mempunyai kompetensi dan integritas untuk membawa perubahan Kabupaten Banggai ke arah yang lebih baik.

Pilkada Banggai secara langsung merefleksikan demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan di tangan rakyat. Disisi lain juga menyedot anggaran yang cukup besar. Sehingga membuka ruang terjadinya praktik politik uang dan cost politic yang harus ditanggung oleh para kandidat calon Bupati dan Wakil Bupati Banggai.

Uang memang bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya sangat membutuhkan uang. Tidak heran jika kemudian Partai Politik memilih jalan pintas dengan mengusung figur kandidat calon Bupati dan Wakil Bupati Banggai yang sudah dikenal dan populer serta memiliki finansial atau modal (uang) yang sangat kuat.

Belajar dari pengalaman Pilkada Bupati Banggai sebelumnya, kehadiran Murad Husain (Ayah Anti Murad) pengusaha dibidang kelapa sawit ini, dikenal sosok pengusaha dermawan kepada siapapun.

Ketokohan Murad Husain dalam setiap ajang Pilkada Bupati Banggai dalam mengusung setiap kandidat yang dijagokannya pasti sangat diperhitungkan dalam merebut tiket kemenangan, karena kekuatan modal.

Karena uang semua jadi bisa. Banyak contoh dan bukan rahasia umum lagi, kemenangan yang diraih para pemimpin (Bupati) Banggai sebelumnya, tak lepas dari peran donatur Murad Husain.

Sehingganya, dengan tampilnya figur calon Bupati dari kaum perempuan, Hj. Sulianti Murad, SH, MH, putri Murad Husain ini, tentunya patut diperhitungkan.

Selain memiliki kekuatan modal, Ia juga memiliki kekuatan dan dukungan politik, dari Ketua Gerindra Sulteng, Longki Djanggola yang menjabat sebagai Gubernur Sulteng, serta organisasi Persatuan Wanita Islam (Perwis) Kabupaten Banggai dan memiliki jaringan birokrasi serta relasi bisnis lainnya.

Semua orang pasti sepakat bahwa mencari sosok kandidat calon Bupati Banggai harus memiliki jiwa yang dermawan. Berbekal pengalaman orang tuanya, figur Anti Murad dengan latar belakang pengusaha, sifat dermawan yang dimilikinya sudah tertanam dalam dirinya, dan hal ini tercermin dari spontanitas dan kebiasaan yang dilakukannya, ringan tangan, tergerak hati tanpa diminta, dalam membantu sesama.

Sifat dan karakter dermawan, yang ditunjukkan Anti Murad, dalam bentuk modal sosial kemasyarakatan, telah banyak menyantuni siapapun yang membutuhkannya, rela berkorban untuk kemanusiaan, tidak angkuh dan tidak sombong ketika memiliki harta melimpah.

Sehingga, ketika mendapat legitimasi rakyat dalam Pilkada Bupati Banggai, figur Anti Murad dapat berperan sebagai agen perubahan dan menjadi motor penggerak masyarakat Banggai untuk menjalankan kepemimpinan secara efektif dan efisien.

Proses demokrasi yang bergulir dalam Pilkada Bupati Banggai semestinya menjadi ajang kompetisi kebaikan. Figur Anti Murad, sosok kandidat calon Bupati dari kaum perempuan, yang dikenal sangat dermawan ini yang masih tersimpan ditengah-tengah masyarakat Banggai harus didorong untuk memimpin daerah ini agar dapat mensejahterakan rakyat di Kabupaten Banggai.

Secara umum ada tiga faktor yang sering menjadi pijakan konsultan politik dalam mengukur setiap kandidat calon Bupati Banggai, yakni popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas. Namun yang tak kalah pentingnya lagi adalah calon Bupati Banggai harus memiliki ‘isi kantong’, sehingga ‘isi perut’ masyarakat terpenuhi.

Begitu kompleksnya berbagai permasalahan yang dihadapi daerah ini, antara lain; kondisi maupun kebijakan fiskal (keuangan) daerah kita yang tidak stabil, ketimpangan yang meluas dan ditandai ketimpangan pendapatan individu dan antar wilayah.

Begitupun juga kemiskinan dan pengangguran. Ditambah lagi dengan pemulihan perekonomian masyarakat akibat Covid-19. Selain hancurnya sektor usaha, justru lebih memperparah perekonomian masyarakat.

Kepiawaian dan ketokohan Anti Murad dalam menerobos pintu masuk gerbong Pilkada Bupati Banggai, sangat luar biasa ditambah lagi beban berat yang dihadapi dampak dari Pandemi Covid-19.

Anti Murad sangat kreatif dan inovatif, mampu melihat jauh kedepan Kabupaten Banggai dan mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan dan kebutuhan rakyat Banggai.

 

SEBAGAI PENYEIMBANG

Tampilnya Ketua Majelis Ulama Indonsia (MUI) Kabupaten Banggai, H. Zainal Abidin Ali Hamu, sebagai calon Wakil Bupati Banggai, sebagai wujud penyeimbang dalam membenahi daerah Banggai, khususnya bidang keagamaan di lingkungan birokrasi.

Disisi lain, dalam kesehariannya, Sosok Zainal Aibdin harus menanggalkan atributnya (sebelumnya ASN) maju menjadi kandidat calon wakil Bupati mendampingi Hj, Sulianti Murad, SH,MH.

Ketokohan Ustad Zainal Abidin, dimata rakyat Banggai tidak asing lagi. Tingkat popularitas dan elektabilitasnya tidak diragukan. Tidak heran kalau Anti Murad menjadikan Zainal Abidin sebagai pasangan ideal dan menjadi rujukan dalam Pilkada Bupati Banggai.

Sehingga keduanya bisa menjadi calon pemimpin daerah yang mampu menjalankan kepemimpinan dengan amanah, sesuai dengan nila-nilai dan norma keislaman dan Pancasila.

Berbekal popularitas dan ketokohan Ustad Abidin Ali Hamu, selaku Ketua MUI ini menjadi magnet bagi Anti Murad dan mendapatkan restu menjadi calon Wakil Bupati Banggai, karena kharisma ustad Zainal Abidin Ali Hamu, cukup memiliki potensi besar terhadap pengaruh kantong suara pemilih. Misalnya,  ASN Pemda Banggai, sejumlah pondok pesantren, dukungan jaringan sesama tokoh agama, ustad dan ulama, dan lain sebagainya.

Intinya Anti Murad memilih Ust. Zainal Abidin sebagai calon Wakil Bupati Banggai, dalam Pilkada Bupati Banggai, bahwa Zainal Abidin adalah yang terbaik, mampu membuat suasana sejuk, mampu merangkul semua rakyat Banggai untuk tetap religius, berakhlak dan membangkitkan rasa optimis rakyat Banggai untuk bersatu membangun daerah Kabupaten Banggai yang kita cintai ini kearah yang lebih bermartabat dan berkualitas. *

(Penulis adalah Jurnalis yang pernah mewakili Sulteng dalam pengkajian teknologi Pracetak Pers tingkat nasional I (pertama) di Semarang, Jawa Tengah)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: