Kompetisi Sehat Menuju Pilkada Damai

Baliho Herwin-Mustar yang dirusak orang tak dikenal di kawasan jembatan Simpong Kecamatan Luwuk Selatan. (FOTO ISTIMEWA)

___

Oleh: Syahrin Taalek
Wartawan Luwuk Times

Pilkada damai. Dua kata itu menjadi harapan kita semua. Untuk mewujudkannya, tentu dibutuhkan komitmen semua stakeholder. Termasuk rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi di republik ini.

Adalah wajar dalam setiap kontestasi pemilu, apalagi sekelas pilkada penuh dengan dinamika.

Rakyat yang notabene calon konstituen diperhadapkan pada beberapa pilihan. Mana kandidat yang ideal untuk dipilihnya di dalam bilik suara nantinya.

Perbedaan pilihan politik bukan berarti menjadi awal keretakkan, yang sekaligus memutuskan hubungan silahturahim.

Tapi hendaknya dijadikan seni dalam berdemokrasi. Karena sudah seperti itulah cara kita berdemokrasi. Perbedaan itu rahmat.

Sebagai simpatisan Herwin Yatim dan Mustar Labolo (Winstar), tentu saya sangat kecewa dengan aksi pengrusakan baliho di kawasan jembatan Simpong Kecamatan Luwuk Selatan.

Dan sebagai manusia biasa, tentu marah dan tidak akan menerimanya. Terlebih pengrusakan baliho yang dilakukan orang tak dikenal tersebut sudah kali ketiga.

Tentu saya punya alasan sehingga harus bilang bahwa pelaku pengrusakan itu tak lebih sebagai provokator politik.

Iya, karena di tengah gencarnya kampanye damai yang disuarakan semua pihak, ternyata masih ada oknum warga yang tidak mendukungnya. Malah sebaliknya menentangnya.

Aksi tercela sekaligus mencederai demokrasi pun dilakukannya.

Bagi saya pengrusakan baliho milik bupati dan wakil bupati Banggai itu selain upaya pendzaliman sekaligus bentuk ketakutan calon rival duet petahana.

Sebab tidak bisa dibantah, dari sejumlah lembaga survei, menempatkan posisi Herwin Yatim tertinggi, baik elektabilitas maupun tingkat keterpilihannya.

Hal itu wajar, karena selama memimpin daerah ini, Winstar sudah banyak membuahkan karya nyata buat masyarakat, dan bukan sebatas janji. Wajar saja muncul tagline Winstar 2 periode.

Saya cuma khawatir, pelaku pengrusakan baliho itu terdampak pada penyakit hati.

Nah, ketika alat peraga kampanye itu kembali dipasang di tempat yang sama, maka akan timbul sekaligus tiga penyakit berlabel S. Yakni stres, stroke dan stop. (*)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: