Koalisi Gemuk di Pilgub tak Jadi Jaminan Menang, Hertop: Rakyat Melihat Track Record

Ketua Satria DPC Partai Gerindra Kabupaten Banggai, Herman Tope

Luwuk, LUWUKTIMES.COM – Kalaupun terjadi head to head di Pilkada Sulteng, maka pasangan calon (paslon) gubernur/wakil gubernur Sulteng, Rusdi Mastura-Ma’mun Amir paling gemuk partai koalisinya.

Sejauh ini Cudi-Ma’mun sudah mengantongi sebanyak 26 dari 45 kursi di DPRD Sulteng. Dengan rincian NasDem 7 kursi, PKB 4 kursi, PKS 4 kursi, Hanura 2 kursi, Perindo 2 kursi dan Partai Golkar 7 kursi.

Kabarnya, parpol yang sebelumnya mengusung Anwar Hafid-Sigit Purnomo juga akan bergabung dalam koalisi akbar tersebut.

Sementara pesaingnya, Hidayat Lamakarate-Bartho Tandigala hanya punya 12 kursi, yakni PDI Perjuangan 6 kursi dan Partai Gerindra 6 kursi.

Sekalipun kalah dari jumlah dukungan, namun tidak mengurangi semangat para kader partai pengusung.

Dan sikap itu tercermin lewat pernyataan tegas Ketua Satria Gerindra Kabupaten Banggai, Herman Tope kepada Luwuktimes.com, Selasa (01/09/2020).

Menurut Hertop-sapaannya, sedikitpun tidak mengurangi spirit partai pengusung Hidayat-Bartho, khususnya di Kabupaten Banggai. Karena bagi Hertop, koalisi gemuk tidak memberi jaminan paslon tersebut menang dalam kontestasi Pilkada Sulteng.

Dijelaskannya, koalisi gemuk berkonsekwensi pada pembiayaan. Jelas saja linear dalam hal implementasi kerja-kerja politik pemenangan kandidat. Dan kondisi itu berbanding terbalik dengan koalisi kecil. Pembiayaan tidak hight cost.

Memang kata Hertop, dari sisi elektoral, koalisi gemuk dan koalisi ramping akan sangat menentukan. Akan tetapi pada masing-masing kandidat dan tim pemenangan akan selalu menitik beratkan pada strategi dan gagasan yang disajikan dalam visi-misi calon.

“Bagi saya persepsi itu sah-sah saja jika disandingkan pada sisi elektoral politik,” kata Hertop.

Akan tetapi sambung dia, pada sisi empati politik itu belum tentu. Karena konstituen beragam pilihan. Belum lagi yang tidak kalah pentingnya adalah pemilih akan cenderung melihat pada track record masing-masing kandidat. Dan itu memberi pengaruh sangat besar ketika rakyat menentukan pilihan di dalam bilik suara di tanggal 9 Desember 2020.

Pada prinsipnya lanjut Hertop, kompetisi di pilkada Sulteng adalah pertarungan gagasan dan rasionalitas untuk Sulteng kedepan.

Konsituen atau pemilih tidak bisa disugesti dengan jumlah kursi yang banyak. Sebab perjalanan politik di Sulawesi Tengah terus berkembang dengan sejumlah perubahan pola pikir pemilih yang semakin cerdas pula. *

Baca juga: Diwacanakan Maju Sebagai Calon Ketua Golkar Banggai, Begini Jawaban Ko Sin

(yan)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: