285 Ribu Pemilih di Pilkada, 255 Ribu Pemilih di Pileg, Kemana 30 Ribu Pemilih?

Fungsionaris Partai Hanura Kabupaten Banggai, Yono S. Tondaes mengkritisi KPU Banggai terkait data pemilih, Senin (29/06/2020). (Foto: Sofyan Labolo)

Luwuk, LUWUK TIMES— Fungsionaris Partai Yono S. Tondaes, mempelototin data pemilih pada setiap pemilihan di Kabupaten Banggai, baik pemilu legislatif (pileg) maupun pemilihan kepala daerah (pilkada).

Dan uneg-uneg itu disampaikan Wakil Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Banggai ini pada sosialisasi PKPU 5/2020, di hotel Swiss Bell Luwuk, Senin (29/06/2020).

“Kan aneh, 285 ribu pemilih menggunakan hak pilihnya di pilkada. Tapi saat pileg jumlah pemilihnya tinggal 255 ribu. Lantas kemana 30 ribu pemilih,” tanya Yono saat diberi kesempatan berbicara pada kegiatan siang itu.

Jangan sampai di pilkada 2020 ini, jumlah pemilihnya kembali naik. Sebagai lembaga penyelenggara teknis, KPU harus mengantisipasinya, sekaligus transparan ke publik.

Yono optimis, KPU Kabupaten Banggai dapat melaksanakan gawean politik pilkada ini dengan baik. Ada alasan Yono sehingga dirinya begitu yakin. Dan itupun dibebernya.

 

Baca juga

Tanpa Menunggu Laporan Dana Hibah, Pemda Wajib Cairkan Anggaran KPU

 

“Saya optimis KPU bisa laksanakan pilkada dengan baik. Mereka kan sudah dapat teguran dari DKPP RI, lantaran tertundanya pileg 2019. Sehingga kasus itu menjadi motivasi di pilkada 2020,” kata Yono.

Komsioner KPU Sulteng, Sahran Raden mengaku, pemutahiran data dalam setiap kali pemilihan menjadi isu krusial. Masihnya ada data ganda, meninggal tapi masih terakomodir dalam data pemilih serta terdaftar sebagai pemilih kalangan TNI/Polri.

Proses data pemilih sambung Sahran bersumber dari data pemerintah. Sebagai penyelenggara teknis, KPU melakukan harmonisasi dari data pileg sebelumnya. Sahran pun secara teknis menjelaskan siklus pendataan pemilih.

Menyangkut distribusi logistik yang sebelumnya menjadi catatan merah bagi KPU Banggai karena keterlambatan suplai sehingga terjadinya penundaan pencoblosan pada sejumlah daerah pemilihan di pileg tahun lalu, bagi Sahran menjadi perhatian serius KPU.

“Distribusi logistik selalu menjadi perhatian kami. Dan persoalan di pileg 2019, akan menjadi motivasi KPU,” kata Sahran.

Sebenarnya sambung Sahran, distribusi logistik pilkada, masih lebih ringan dibanding pileg. Sebab di pilkada hanya ada dua surat suara. Tinggal tergantung jumlah pemilihnya.

Satu hal dipertegas Sahran, Pilkada 2020 tak hanya diperhadapkan pada bencana nonalam, yakni covid-19. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan di akhir tahun ini kita akan menghadapi bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Problem itu dapat diatasi, ketika semua stakeholder saling berkoordinasi. *

 

Penulis: Sofyan Labolo

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: