Survivalitas Manusia Menghadapi Musuh Terbesarnya

Oleh: Dr. Muhadam Labolo, M.Si

Karya cemerlang Yuval Noah Harari dalam buku Sapiens & Homo Deus (2015, bestseller, terjual lebih 4 juta copy), menggambarkan pada kita tentang tiga ancaman terbesar dalam sejarah peradaban manusia.

Ketiga ancaman itu adalah kelaparan, wabah, dan perang. Jutaan manusia mati dalam setiap periode kendatipun generasi demi generasi terus meningkatkan kemampuan spiritualnya, bahkan menemukan alat, institusi, obat dan sistem sosial yang kokoh guna meredakan ancaman kelaparan, epidemi hingga kekerasan kolektif.

Meski disadari bahwa masalah-masalah tersebut faktanya belum sepenuhnya berhasil diatasi sekalipun teknologi dan kualitas evolusi manusia semakin tinggi.

Kelaparan adalah musuh terburuk pertama dalam sejarah umat manusia. Di abad pertengahan Mesir dan India kehilangan 5-10 persen populasinya.

Pada April 1664 seorang pejabat Perancis di Kota Beauvais menggambarkan bagaimana kemelaratan melanda negeri itu.

Untuk memperpanjang hidup kaum miskin mesti mengkonsumsi makanan kotor layaknya kucing. Sisa daging kuda yang dikuliti dan dibuang ketumpukan kotoran menjadi rebutan, darah yang mengalir saat sapi dan kerbau disembelih menjadi minuman sewaktu-waktu, demikian pula sisa jeroan yang dilempar juru masak, jelatang, rumput, hingga akar rempah-rempah yang direbus dengan air.

Sekitar 2,8 juta orang atau 15% penduduk Perancis antara 1692-1694 mati kelaparan, sementara kaum bangsawan mematok harga pangan dengan nilai tinggi ditambah kehidupan mewah Raja Louis XIV bersama gundiknya di Versailes.

Kondisi yang sama dialami Finlandia, sepertiga populasi warganya mati kelaparan pada tahun 1969, disusul Skotlandia dimana sebagian distriknya kehilangan 20% penduduk antara thn 1965-1698.

Nasib yang sama dialami Kuba dan China, kelaparan telah merenggut jutaan manusia dimasa itu.

Di Asia, hingga kini menurut PBB masih terdapat sekitar 486 juta penduduk kelaparan, termasuk Indonesia yang oleh Global Hunger Index (GHI) dikategorikan serius.

Meskipun kelaparan bersifat kusuistik seperti di Yahukimo, Indonesia masih menyisakan sekitar 20 juta potensi kelaparan menurut beberapa lembaga riset pangan dunia.

Ancaman terhadap bahaya kelaparan semacam itu telah mendorong perkembangan teknologi, ekonomi dan politik di dunia untuk menciptakan jaring pengaman yang kuat guna menghentikan laju kemelaratan biologis.

Kendatipun kelaparan massal masih terjadi disejumlah kawasan namun diakui bahwa kelaparan lebih disebabkan oleh kebijakan politik manusia ketimbang bencana alam.

Kondisi dunia kini terbalik, angka kematian sejak thn 2014 menunjukkan lebih dari 2,1 milyar mati karena kelebihan berat badan (obesitas).

Setengah populasi manusia diperkirakan kelebihan berat badan pada thn 2030. Jika pada tahun 2010 gabungan antara kelaparan dan gizi buruk telah membunuh sekitar 1 juta orang, maka obesitas membunuh sekitar 3 juta orang.

Musuh besar kedua yang dihadapi umat manusia adalah wabah dan penyakit menular. Wabah paling terkenal didunia bernama maut hitam meledak pada dekade 1330 di Asia Timur/Tengah. Yersinia Pestis yang berasal dari armada tikus dan kutu menyebar ke seluruh wilayah Asia, Eropa, Afrika Utara hingga pesisir Samudra Atlantik hanya dalam waktu 2 tahun.

Tercatat antara 75 sampai dengan 200 juta orang mati, atau lebih dari seperempat populasi Eurasia. Di Inggris, 4 dari 10 orang mati, populasi susut dari 3,7 juta jiwa sebelum wabah menjadi 3,2 juta pasca wabah.

Kota Florensia kehilangan 50.000 dari 100.000 penduduknya. Para pejabat putus asa, entah apa yang mesti dilakukan kecuali memanjatkan doa dan prosesi massal.

Dimasa itu orang percaya bahwa wabah datang dari udara buruk, setan jahat, dewa yang murka, tanpa mencurigai sedikitpun bakteri dan virus.

Orang mudah percaya pada malaikat dan peri tanpa membayangkan ada seekor kutu mungil atau setetes air liur yang membawa satu pasukan penuh predator mematikan.

Pada Maret 1520, satu rombongan kapal Spanyol menuju Meksiko dipimpin Fransisco de Egula tanpa sadar membawa virus mematikan cacar (smallpox).

Satu bom biologis yang berbiak dengan cepat dalam tubuh Fransisco, meletup keluar dari kulitnya dalam bentuk ruam yang mengerikan, menulari keluarga, tetangga, penduduk lokal hingga dalam 10 hari Kota Cempoallan berubah menjadi lahan kuburan.

Masyarakat Maya meyakini perbuatan tiga dewa jahat, Ekpertz, Uzannkak dan Sojakak. Suku Aztek menyangka ulah dewa Tezcarlipoca & Xipetotec, atau mungkin sihir hitam orang kulit putih dimasa itu.

Puluhan ribu mayat tergeletak membusuk di jalan-jalan kendatipun para pendeta dan dokter menyarankan berdoa, mandi air dingin, melumuri tubuh dengan bitumen, termasuk mengolesi luka dengan kumbang hitam yang digepengkan.

Sejumlah keluarga lenyap dalam sehari, para pejabat memerintahkan agar rumah-rumah dirobohkan diatas mayat-mayat yang bergelimpangan.

Dari 22 juta populasi Meksiko, sepertiga musnah, hanya 14 juta yang masih tersisa. Pada 1778 Kapten James Cook tiba di Hawaii dgn penduduk terisolasi setengah juta jiwa.

Kapten Cook rupanya memperkenalkan flu pertama, tuberkolosis dan spilis ke Hawaii. Pendatang selanjutnya bahkan membawa tipus dan cacar. Hingga 1853 hanya 70 ribu orang yang selamat di Hawaii.

Epidemi terus membunuh puluhan juta jiwa hingga memasuki abad 21. Pada 1918 pasukan Perancis tewas akibat flu spanyol. Dalam beberapa bulan setengah miliar orang atau sepertiga populasi global ambruk oleh virus itu.

Di India, virus tersebut membunuh 5% dari populasi 15 juta saat itu, di pulau Tahiti 14% penduduk mati, di Samoa 20% tewas.

Wabah telah membunuh antara 50-100 juta orang dalam kurun waktu 1 tahun dibanding perang dunia pertama yang menewaskan 40 juta orang dari tahun 1914-1918.

Dewasa ini manusia kembali dihantui oleh virus flu burung, flu babi, HIV, ebola, sars, mers, dan corona (covid 19).

Meskipun demikian kemampuan manusia beradaptasi dalam bidang kesehatan telah melahirkan vaksinasi, antibiotik, ilmu kesehatan serta infrastruktur medis yang lebih baik.

Buktinya, vaksinasi cacar pd tahn 1979 telah memenangkan manusia atas perang melawan cacar.

Itulah epidemi pertama yang mampu dilenyapkan manusia di muka bumi hingga tahun 2014.

Sama halnya Covid 19 yang hanya menunggu waktu sebagaimana kemampuan masyarakat China dalam memperlambat penularannya lewat antiviral, antibody, dan lockdown. Hingga Maret 2020 lebih 70 ribu populasi dunia dari 128 negara terinfeksi virus ini.

Terdapat setidaknya 3.070 orang mati di China dengan pusat penyebaran Kota Wuhan. Hingga Maret 2020 ada lebih dari 7050 korban di Italia, termasuk 6205 petugas medis terpapar dan 37 dokter meninggal.

Musuh terbesar ketiga manusia adalah ancaman perang.

Perang antar negara, kawasan, hingga terorisme telah merenggut jutaan jiwa dalam sejarahnya. Bila kekerasan di masyarakat agricultur menyebabkan 15% kematian, dalam abad 20 kekerasan menyebabkan 5% kematian dan pada awal abad 21 berkontribusi 1% dari angka kematian global.

Pada 2012, sekitar 56 juta orang mati diseluruh dunia, 600 ribu diantaranya akibat perang. Bandingkan dengan hari ini, 800 ribu orang melakukan bunuh diri, dan 1,5 juta orang mati karena diabetes.

Saat ini, kelebihan gula dan garam jauh lebih berbahaya dibanding bubuk mesiu. Lahirnya kesadaran manusia akibat kemajuan pendidikan telah menciptakan perdamaian relatif.

Perang perlahan menjdi dingin (perang dingin), bersembunyi dibalik kecanggihan teknologi (perang dunia maya, cyber, proxy dsbnya).

Manusia biasanya suka tergoda bila menemukan senjata baru termasuk ancaman senjata biologis di negara-negara totaliter.

Pada akhirnya, kemampuan survivalitas manusia dari ancaman kelaparan, wabah dan perang telah menyediakan lebih banyak tempat bagi kita dan kelompok renta akibat kualitas harapan hidup yang semakin baik.

Kesadaran manusia yang tinggi akan menghasilkan logistik pangan guna mencegah kelaparan, antiviral untuk menangkal wabah, serta perdamaian yang abadi untuk menghentikan peperangan dimasa mendatang.

Kondisi ini tidak saja menjadi take home bagi kita untuk menjamin masa depan peradaban manusia baik dari sisi negatif dan positifnya, misalnya hilangnya separuh populasi dimuka bumi ini, atau bahkan surplus demografi yang mesti dipikirkan jalan keluarnya. (*)

Penulis adalah Dekan Fakultas Politik Pemerintahan IPDN

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: