Islam dan Sikap Hati-hati Zinedine Zidane

Insiden Zidane menanduk dada Materazzi di final Piala Dunia 2006. (AFP/JOHN MACDOUGALL)

Jakarta, Luwuktimes.comZinedine Zidane adalah salah satu legenda sepak bola dan ‘penari’ terhebat di lapangan pada masanya. Sama dengan sejumlah pesepakbola top lainnya, Zidane terlahir dari latar belakang keluarga yang sederhana.

Zidane dikenal sebagai salah satu pesepakbola muslim terbaik sepanjang sejarah. Meski demikian, Zidane selalu berhati-hati dalam menyikapi soal agama yang dianutnya.

Tengok saja di media-media maupun media sosial milik Zidane, nyaris tak ada muatan terkait Islam, agama yang dianut keluarganya. Bagi Zidane, masalah keyakinan murni urusan pribadi sehingga ogah diumbar.

Zidane bukan seperti pesepakbola lain macam Mesut Ozil dan Karim Benzema yang kerap vokal dalam persoalan Islam dan diskriminasi. Dia terlalu ‘malu’ untuk buka suara.

Zizou, sapaan akrab pelatih Real Madrid itu, nyaris tak pernah membahas perihal agama yang dipeluknya. Coba cek saja di akun media sosialnya seperti Instagram atau Twitter, tak ada satu pun membahas ihwal terkait keyakinannya.

Bahkan sekadar mengucapkan selamat berpuasa seperti biasa dilakukan para pemain atau mantan pemain muslim yang lain di media sosial, Zidane bukan tipe pribadi seperti itu. Dia begitu misterius dalam urusan agama.

Zidane pernah menjawab pertanyaan seputar keyakinannya dalam wawancara khusus dengan media Inggris, Guardian, pada 2004. Dia mengakui bukan muslim yang taat, dalam arti melaksanakan praktik keagamaan secara utuh.

Meski mengakui bukan seorang muslim taat, Zidane tak lantas hilang keyakinan sebagai pemeluk agama Islam. Ketika masih merumput di lapangan, ia kerap berdoa sesuai ajaran Islam.

Selain menutup rapat-rapat soal keyakinan agama, Zidane termasuk pemain yang amat plural. Terbukti dia menikahi perempuan beda keyakinan, Veronique Fernandez. Dia menikahi perempuan keturunan imigran asal Spanyol tersebut pada 1994.

Hasil dari pernikahan itu mereka dikaruniai empat putra yaitu Enzo, Luca, Theo, dan Elyaz Zidane. Semua putranya mengikuti jejak sang ayah sebagai pesepakbola.

Sikap tertutup Zidane soal agama dan orientasinya yang plural amat dipengaruhi kehidupan sekuler Prancis yang sangat beragam. Belum lagi, perasaan trauma lantaran masalah rasialisme dan stigma terhadap muslim di negara itu ketika ia kecil hingga remaja.

Meski begitu, dia tetap bangga dilahirkan dari keluarga imigran dan berdarah Arab.

“Saya masih punya keterikatan dengan dunia Arab. Saya memilikinya dalam darah saya melalui orang tua saya. Tentu saya bangga menjadi warga Prancis, tapi juga bangga memiliki akar ini dan keberagaman,” kata Zidane dikutip dari Esquire.

Zidane besar sebagai keturunan imigran asal Aljazair di Prancis. Dia anak dari pasangan imigran muslim, Smail Zidane (ayah) dan Malika (ibu) di distrik padat penduduk, La Caslellana, Marseille.

Sang ayah bekerja sebagai tukang servis jam di salah satu pusat perbelanjaan di Marseille. Sementara sang ibu bekerja sebagai asisten rumah tangga ketika Zidane masih bocah.

Hidup di dalam flat sederhana yang amat sempit bersama tujuh anggota keluarga, pernah dirasakan Zidane kecil. Tak semua anggota keluarga bisa kumpul di rumah untuk makan bersama ketika itu.

Kesulitan itu pula yang membuatnya kerap keluyuran di Marseille sebagai bocah. Sepak bola menjadi salah satu jalan baginya untuk keluar dari tekanan hidup. Dengan ‘Si Kulit Bundar’ inilah Zidane mencoba keluar dari kehidupan miskin di sana.

Di kota dengan tingkat kriminalitas cukup tinggi, mental Zidane terbentuk. Kehidupan kota yang keras dan tak jarang dia mendapat perlakuan diskriminatif sebagai anak imigran muslim dari Aljazair.

Meski kerap mendapatkan perlakuan tidak baik semasa kecil, Zidane tak mau menyerah. Dia bahkan mencoba menyalurkan kemarahan terhadap perlakuan tak adil terhadapnya di sepak bola.

Prancis sebagai salah satu negara penggila sepak bola di Eropa, sangat memungkinkan bagi mereka yang miskin untuk memanjat kelas sosial di olahraga itu.

Zidane pernah mendapati kenyataan pahit ketika dia beserta sejumlah imigran lain membela timnas Prancis pada 1990-an. Banyak polemik di antara publik karena Les Bleus diperkuat sejumlah imigran.

Zizou termasuk rekan-rekan lainnya kerap mendapat cibiran kala itu. Namun, cibiran tersebut berubah menjadi euforia ketika timnas Prancis berhasil juara Piala Dunia 1998.

Saat itu Zidane ikut mengerek prestasi Les Bleus. Zidane paling dielu-elukan sebagai pahlawan sepak bola Negeri Napoleon waktu itu. Di situ pula jejak-jejak awal Zidane sebagai legenda sepak bola mulai terbentuk.

Kesuksesan Zidane juga menjadi inspirasi, terutama bagi para imigran yang memiliki talenta luar biasa di sepak bola. Berkat cerita kepahlawanannya, Prancis mengulangi sukses dengan meraih juara Piala Dunia 2018.

Sama seperti era Zidane, saat itu Les Bleus juga banyak diperkuat pemain keturunan imigran macam Kylian Mbappe dan N’Golo Kante.


Kontroversi Piala Dunia 2006


Salah satu kontroversi yang terus dikenang hingga sekarang adalah insiden Zidane menanduk bek timnas Italia, Marco Materazzi, di final Piala Dunia 2006.

Materazzi memantik kemarahan Zidane yang kemudian menanduk dadanya di babak perpanjangan waktu. Zidane mendapat kartu merah dan Italia akhirnya jadi juara Piala Dunia 2006 lewat drama adu penalti.

Zidane disebut-sebut kesal karena Materazzi menghina sang ibu pada laga final Piala Dunia 2006 itu. Belakangan, Materazzi membantah bahwa dia menghina ibu dan saudari Zidane.

“Setelah Zidane mencetak gol pertama Prancis, saya diminta pelatih untuk menjaga Zidane. Setelah benturan pertama di antara kami saya minta maaf, namun reaksi dia sangat buruk.”

“Setelah benturan ketiga, dia berkata: ‘Nanti saya akan berikan jersey milik saya untukmu’. Saya lalu membalas bahwa saya lebih memilih memiliki saudara perempuannya dibandingkan kostum miliknya,” tutur Materazzi dalam wawancara dengan AS seperti dikutip dari Sport Bible. *

(CNN Indonesia)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: