Dana KONI Banggai Belum Cair, 11 Cabor Gigit Jari

Ketua Umum KONI Banggai, Muntasar Abd. Azis. (FOTO ISTIMEWA)

__ ” __

“Depe kendala belum ada doi dari Pemda”

Muntasar Abd. Azis

__ ” __

LUWUKTIMES.com— Dana hibah yang diperuntukan KONI Banggai tahun 2020 ini, belum cair seluruhnya.

Akibatnya, sebanyak 11 cabang olahraga harus gigit jari. Betapa tidak, ke 11 pengurus kabupaten (Pengkab) tersebut sudah melaksanakan kegiatan.

“Bukan hanya lima, tapi 11 cabang yang belum terima anggaran KONI. Padahal ke 11 cabang itu sudah melaksanakan kegiatan,” kata Ketua Umum KONI Banggai, Muntasar Abd. Azis, Selasa (17/3/2020).

Kendalanya sebut Muntasar hanya satu, yakni belum ada pencairan dari Pemda untuk KONI.

“Depe kendala belum ada doi dari Pemda,” kata Muntasar.

Mantan Ketua Gapensi Kabupaten Banggai ini menjelaskan, seyogianya akan dicairkan Pemda sebesar Rp. 500 juta. Dengan terealisasi anggaran itu, maka semua program cabang bisa disahuti.

Akan tetapi faktanya hanya dikucurkan Rp. 100 juta.

“Cuma itu (Rp. 100 juta) yang diterima Bendahara KONI. Itupun saya sudah berangkat di Palu baru ada,” kata Muntasar.

Terhadap anggaran yang diterima itu lanjut mantan Ketua Pengkab Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kabupaten Banggai ini, KONI telah membayarkan honor sekretariat KONI Banggai serta biaya perjalanan dinas ke Palu dalam rangka musyawarah kerja provinsi.

Muntasar mengaku, tak mengetahui kapan lanjutan pembayaran dari Pemda.

“Kalau saya maunya hari ini. Sehingga semua cabang olahraga teratasi. Tapi semua tergantung Pemda,” jelas dia.

Muntasar tak ingin berkomentar soal adanya wadah yang juga didanai oleh dana hibah yang notabene dualisme, tapi anggarannya telah direalisasikan.

“Saya tidak tahu wadah dualisme itu. Saya hanya berharap dana hibah KONI segera dicairkan sepenuhnya,” ucapnya.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Banggai Marsidin Ribangka yang dikonfirmasi terpisah mengaku, dana hibah KONI tidak dibayar sekaligus.

“Sudah cair. Tapi dilakukan bertahap,” kata Marsidin.

Hanya saja Marsidin tidak memberi tanggapan ketika disodor pertanyaan lanjutan bahwa untuk triwulan I ini dibayarkan Rp. 250 juta, namun yang direalisasi baru Rp. 100 juta. (st)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: