Diduga Terkendala Biaya, Jabang Bayi Meninggal dalam Kandungan

Suasana haru menyelimuti keluarga bayi yang meninggal di dalam kandungan. (Foto: Istimewa)

Luwuk, LUWUK TIMES— Mengharukan. Begitulah yang dirasakan pasangan suami istri (pasutri), Basrin dan Yustina Timbil. Warga Desa Bulagi II, Kecamatan Bulagi, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) ini diduga terkendala biaya persalinan saat harus menjalani operasi sesar di RSUD Luwuk. Jabang bayi mereka tak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dalam kandungan, Jumat (19/6/2020) lalu.

Menurut keterangan Basrin dan Yustina didampingi Mey Pangku selaku pihak keluarga seperti dikutip dari Sultimnews.id, pasutri ini tiba di RSUD Luwuk pada Selasa (16/6/2020) setelah dirujuk dari RS Salakan, Bangkep.

Saat menjalani operasi sesar, ternyata kartu BPJS Kesehatan sudah dinyatakan tak lagi berlaku. Akibat adanya penonaktifan BPJS kesehatan sejumlah warga di Bangkep.

“Kami sudah konfirmasi ke BPJS. Dan diakui sudah tidak aktif. Kemudian BPJS kembalikan ke RSUD dengan meminta kebijakan,” kata Mey siang tadi (20/6/2020).

Pihak managemen RSUD Luwuk telah mengeluarlan kebijakan yakni dengan menurunkan biaya operasi dari Rp 15 juta menjadi Rp 6,5 juta. Namun, keluarga tersebut hanya mampu menyanggupi Rp 2 juta.

“Itupun masih akan dicari pinjam dulu. Jawaban salah satu perawat, tidak bisa jika hanya segitu. Malah sempat mengomeli Basrin dengan katakan mengapa tak ada persiapan,” kata Mey.

“Bukannya tanpa persiapan. Mereka baru tahu BPJS mereka sudah tidak bisa dipakai di sini (RSUD Luwuk). Padahal di Salakan masih bisa, hingga dirujuk,” tambah dia lagi.

Upaya mencari bantuan ke Dinkes Banggai dan Dinsos Banggai, yang juga telah dilakukan pun tak membuahkan hasil. Dimana kebijakan RSUD Luwuk pun dikembalikan berdasar petunjuk 2 instansi itu.

Tiga kali diarahkan untuk berpuasa selama di RSUD Luwuk, sebanyak tiga kali pula pembatalan operasi. Alasan yang didapatkan pihak keluarga, jika jadwal operasi masih penuh.

“Tapi kami yakin bukan penuh. Melainkan terkendala dengan biaya tadi,” tutur Mey mewakili keluarga malang itu.

Hingga akhirnya Kamis (18/6/2020) malam, Yustina mengalami pecah ketuban, dan dari ruang Asoka tempatnya dirawat, dilarikan ke ruang operasi. Namun penanganan baru dapat diterima pada Jumat pagi.

Didiagnosa awal plasenta berada di bawah sehingga dirujuk untuk dioperasi, saat berada di ruang operasi detak jantung bayi diketahui berhenti berdetak.

Dokter spesialis kandungan yang kemudian melakukan USG, memastikan jika jabang bayi dalam kandungan Yustina, telah meninggal dunia. Operasi pengeluaran jasad bayi malang itu kemudian dilakukan.

“Jadi kami berkesimpulan, orang miskin jangan masuk rumah sakit kalau sakit. Seperti unggahan saya di medsos,” tegas Mey kesal.

“Karena bayi ini menurut saya pribadi, kekurangan oksigen karena ibunya sudah 3 kali diminta puasa namun tak dioperasi,” tandas Mey, yang hingga saat ini masih menemani keluarga malang, dirawat di ruang asoka RSUD Luwuk.

Sementara itu, Diektur RSUD Luwuk dr. Yusran Kasim yang dikonfirmasi mengaku akan mengeceknya ke ruang tempat keluarga asal Bulagi, Bangkep itu dirawat. “Sementara investigasi ke ruangan tempat pasiennya dirawat,” sebutnya. * (pr)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: