Dikarantina tak dapat Vitamin, Ini Jawaban Tim Gugus Tugas

Warga Bungin saat berada di RSUD Luwuk. Mereka berdiaolog bersama Direktur RSUD Luwuk, dr. Yusran Kasim.

LUWUKTIMES.com— Warga Kelurahan Bungin Kecamatan Luwuk protes. Saat di karantina di gedung SKB Luwuk, pasien yang terkonfirmasi positif covid-19 tidak diberi vitamin. Keberatan itu disampaikan mereka saat berdialog dengan Direktur RSUD Luwuk dr. Yusran Kasim, belum lama ini.

“Kami menanyakan tentang standar karantina. Karena kitorang pe ade ini selama di karantina tidak pernah diberikan satu butir vitamin di SKB. Satu butir pun tidak,” kata warga Bungin Rinto Alimun.

Warga juga menyesalkan tentang kebijakan tim gugus tugas penanganan covid-19 Kabupaten Banggai disaat memberi keterangan kepada sejumlah media menyebut inisial dan tempat tinggal warga yang terkonfirmasi positif virus corona.

“Di daerah lain seperti di Gorontalo atau secara nasional hanya menyebut semisal pasien 01, pasien 02 dan seterusnya. Jangankan inisial, tempat tinggal saja tidak disebut,” kata Rinto.

Dengan menyebut inisial dan tempat tinggal tambah Rinto, membawa dampak negatif baik secara ekonomi maupun sosial kepada masyarakat yang ada di Kelurahan Bungin, Kecamatan Nambo dan Kecamatan Nuhon.

Ironisnya sambung Rinto, sekalipun kedua dampak tadi sudah ditimbulkan, tapi belum ada langkah yang diambil oleh tim gugus tugas. “Kan kita tahu besar anggaran untuk penanganan covid-19,” ucap Rinto.

Direktur RSUD Luwuk, dr. Yusran dikonfirmasi tentang aspirasi itu, tidak memberi jawaban. Padahal dia berdialog langsung dengan warga Bungin bertempat di RSUD Luwuk. “Nanti tanyakan ke Dinkes,” saran Yusran.


Baca juga

45 ODR di Rapid Test di 2 Puskesmas, Bagaimana Hasilnya?


Kepala Dinas Kesehatan yang juga Sekretaris tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Banggai, dr. Anang S. Otoluwa membantah tudingan itu.

“Sudah diberikan vitamin sejak di SKB. Obat anti virusnya nanti diberikan setelah dinyatakan positif dan di rawat di rumah sakit,” kata Anang.

Terkait dengan penyebutan inisial serta tempat tinggal pasien positif corona juga dijawabnya.

“Kita tidak menyebut nama lengkap. Penyebutan inisial dan alamat kecamatan saya kira bagian dari upaya menjaga kerahasiaan pasien,” kata Anang.

“Dibeberapa daerah juga menyebutkan seperti ini. Karena dalam kondisi wabah, penyebutan alamat diperlukan untuk kewaspadaan serta melindungi keselamatan warga lain,” tambah Anang.

Protes warga Bungin masih berlanjut. Selain di RSUD Luwuk, mereka juga ingin beraudiens di Dinas Kesehatan.

“Rencana besok kami akan ke Dinkes. Jam 10.00 wita,” kata warga Bungin lainnya Iwan Pakaya, tadi malam. *

(st)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: