ELEKTABILITAS FURQAN DINILAI RENDAH, INI JAWABAN IWAN SAID

Furqanudin Masulili

LUWUKTIMES.com— Elektabilitas Amirudin Tamoreka (AT) meroket. Rajin blusukan membuat namanya bersinar.

Bahkan lembaga survei tertentu menyebut, AT bisa mengganggu kenyamanan petahana di pilkada Banggai 2020.

Namun itu tidak berbanding lurus dengan Furqanudin Masulili (FM).

Bakal calon Banggai II AT ini diklaim elektabilitasnya mudung alias rendah.

Tim sukses (Timses) AT, Iwan Said meladeni persepsi publik itu. Kepada media online ini Rabu (4/3) Iwan memberi tanggapan.

Sebagai mantan birokrasi, Om Pungke-sapaan Furqanudin Masulili, tentu tidak asing bagi kalangan ASN.

“Pasti dikenal di kalangan ASN. Karena ASN tentu mencermati perkembangan karir birokrasi para pejabat,” kata Iwan.

Memang FM figur yang low profile. Sosok birokrasi yang tidak haus popularitas.

“Tampilan Om Pungke sudah seperti itu,” jelas Iwan.
Bahkan warga di dapil IV (dataran Toili) kaget FM pernah menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt) Bupati Banggai Laut.

Dikatakannya, ada figur atau tokoh yang popularitasnya tinggi. Akan tetapi tidak serta merta akuntabilitas (tingkat penerimaan publik) juga ikut tinggi.

“Dia populer. Tapi kalau populer karena jahatnya bagaimana orang mau pilih,” ucap Iwan.

“Saya tidak menyebut diantara bakal paslon ini ada yang jahat. Tapi saya hanya mencontohkan saja,” sambung Iwan.

Sebaliknya kata Iwan lagi, meski popularitas rendah tapi dia sangat diterima publik, tentu memiliki elektabilitas tinggi.

“Ada tiga hal disini, popularitas, akuntabilitas dan elektabilitas.

Kalau akuntabilitas tinggi, otomatis elektabilitas tinggi,” jelas Iwan.

Fakta politik hari ini klaim Iwan tingkat elektabilitas dan akuntabilitas AT terus naik. Malah sudah pada angka 2 digit dari yang sebelumnya 0 koma.

Dan ini menjadi salah satu alasan PAN memilih AT-FM.

Kembali pada persoalan elektabilitas FM. Iwan malah balik bertanya, apakah di pilkada calon wakil bupati dipilih sendiri? Kan tidak, harus satu paket.

Iwan mengaku lebih enjoy, ketika paket AT-FM dianggap underdog alias tidak dihitung kekuatannya di pilkada.

Sehingga pada endingnya, para rival kaget atas hasil akhir.

“Sama dengan pilkada 2015. Siapa menyangka Winstar bisa menang. Karena saat itu tidak dihitung,” jelas Iwan.

Sejak November 2019, elektabilitas AT-FM naik tajam. Dan bagi Timses ini menjadi motivasi. Enam bulan kedepan harus lebih dipacu. (st)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: